Minggu, 16 Februari 2014

Tradisi Kayau


Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Suku Iban dan Suku Kenyah adalah dua dari suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama ini adalah yang berkaitan dengan berburu kepala (Ngayau). Karya Carl Bock, The Head Hunters of Borneo  yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1882 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala”.
Praktik berburu kepala adalah salah satu bentuk komplek perilaku sosial dan sudah memancing munculnya beragam penjelasan dari berbagai penulis, baik dari kalangan “penjelajah” maupun kalangan akademisi.
Bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, tradisi mengayau untuk kepentingan upacara Tiwah, yaitu upacara sakral terbesar suku Dayak Ngaju untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju langit ke tujuh (Riwut, 2003 : 203). Menurut Lebar (1972 : 171), dikalangan masyarakat Kenyah, perburuan kepala penting dalam hubungannya dengan Mamat, yaitu pesta pemotongan kepala, yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat, Suhan, untuk para prajurit perang. Pemburu-pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan sebuah tato dengan desain khusus..Serangan-serangan para pemburu kepala dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh orang laki-laki yang bergerak secara diam-diam dan tiba-tiba. Mereka sangat memperhatikan pertanda-pertanda, khususnya burung-burung. Setelah digunakan dalam upacara-upacara Mamad, kepala-kepala itu digantung di beranda rumah panjang, berhadapan dengan ruang-ruang tengah yang menjadi tempat tinggal ketua rumah panjang. Di masa lalu Suku Dayak Kenyah dilaporkan sebagai pemburu kepala yang paling terkenal di Kalimantan. Seperti halnya suku Dayak Kenyah, suku Dayak Iban juga melakukan upacara perburuan kepala yang disebut Gawai. Upacara ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga melibatkan pesta besar-besaran dengan minum-minuman dan bersenang-senang (Lebar, 1972 : 184).
Miller yang seorang penjelajah, misalnya menulis dalam Black Borneo-nya (1946 : 121), menyatakan bahwa praktik memburu kepala bisa dijelaskan dalam kerangka kekuatan supernatural yang oleh orang-orang Dayak diyakini ada di kepala manusia. Bagi orang Dayak, tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit. Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan bila dimanipulasi dengan tepat cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, dan mengusir roh-roh jahat. Kalau ternyata tak cukup kuat, itu karena kekuatannya sudah mulai pudar dan diperlukan sebuah tengkorak yang baru. Sementara itu Mc Kinley menggambarkan ritual perburuan kepala itu sebagai sebuah proses transisi, dalam mana orang-orang yang dulunya adalah musuh menjadi sahabat dengan cara memadukan mereka ke dalam dunia keseharian.
Mungkin ada sebuah pertanyaan, dalam tradisi Ngayau tersebut mengapa harus kepala dan bukan bagian-bagian tubuh yang lain yang diambil. Mc Kinley berpendapat (1976 : 124), kepala dipilih sebagai simbol yang pas untuk ritual-ritual ini karena kepala mengandung unsur wajah, yang dengan cara serupa dengan nilai sosial tentang nama-nama personal, merupakan simbol yang paling konkret dari jati diri sosial (social personhood). Jati diri sendiri ini pada gilirannya adalah atribut paling manusiawi milik si musuh dan karenanya menjadi atribut yang harus diklaim oleh komunitas orang itu sendiri.

Dalam kajiannya tentang suku Dayak Iban, Freeman mengatakan bahwa berburu kepala semata simbolik berkaitan dengan kesuburan. Paralel-paralel antara kepala manusia dan kesuburan merupakan sesuatu yang sentral dalam pembahasan tentang praktik berburu kepala. Freeman mengatakan (1979 : 234), puncak dari alegori luar biasa yang menjadi hal yang sentral dalam upacara perburuan kepala yang dilakukan oleh orang-orang Iban yang ketika sudah disenandungkan oleh dukun-dukun pembaca mantra, dilakukan oleh calon-calon pemburu kepala, adalah sebuah ritual yang dikenal dengan nama Ngelampang yang secara harfiah berarti mencincang atau memotong menjadi bagian-bagian kecil. Di dalam bagian alegori ini dipaparkan sebuah deskripsi grafis mengenai ritual membelah kepala tiruan atau antu pala oleh seorang Lang Singalang Burong yaitu dewa perang suku Iban. Lang melakukan ritual ini (sesuatu yang melambangkan pemenggalan kepala musuh yang sesungguhnya) dengan satu tebasan pedang (mandau) yang dilakukannya dengan sangat cepat, dan dari kepala yang dibelahnya itu mengalir benih-benih yang bila ditaurkan akan timbul menjadi sesosok tubuh manusia.
Tidak semua suku Dayak di Kalimantan menerapkan Tradisi Ngayau. Seperti halnya Suku Dayak Maanyan dan Suku Dayak Meratus, dalam adat mereka tidak ada istilah Ngayau, namun berdasarkan cerita para tetuha adat mereka, ketika terjadi perang waktu dulu para ksatria-ksatria Dayak Maanyan dan Dayak Meratus pada saat berperang kepala pimpinan musuh yang dijadikan target sasaran mereka. Apabila kepala pimpinannya berhasil mereka penggal, maka para prajuritnya akan segera bertekuk lutut. Kepala pimpinan musuh tersebut bukan sebagai pelengkap ritual-ritual adat sebagaimana yang dilakukan suku Dayak Kenyah, Iban dan Ngaju, kepala tersebut tetap dikuburkan bersama badannya. Meskipun suku Dayak Meratus dan Maanyan tidak menerapkan tradisi Ngayau dalam adat mereka, namun mereka tetap berpendapat bahwa kepala manusia memiliki arti penting yaitu kepala bagian yang paling atas (tinggi) di tubuh manusia dan memiliki simbol status seseorang.

Panglima Burung

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat Agung, Sakti, Ksatria, dan Berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, dan sosok tersebut selalu bersinggungan dengan alam gaib. Kemudian sosok yang sangat di dewakan tersebut oleh orang dayak dianggap sebagai Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.
Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.
Ada juga versi yang menceritakan bahwa Panglima Burung adalah gelar yang diberikan kepada seorang Panglima di tanah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kehidupan sehari-hari panglima ini seperti orang biasa (cuma tidak menikah) dan sosok panglimanya akan hadir jika terjadi kekacauan di tanah Dayak. Begitu juga dengan Panglima Naga. Panglima Naga adalah warga Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Panglima Naga sudah berpulang, namun beliau memiliki keponakan dan keluarga. Salah satu Keponakan Panglima Naga adalah anggota Dewan Kabupaten Sekadau 2004-2009. Jadi Panglima Burung, Panglima Naga adalah sosok yang benar-benar ada. Begitu versi yang di ceritakan.
Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak?. Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.
 
Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka.
Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.
Riuh rendah kehidupan para pendatang tak membuat mereka marah dan tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkungannya adalah orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan.
 
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu?
Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis.
 
Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.
Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual adat yang di Kalimantan Barat dinamakan Mangkuk Merah akan dilakukan untuk mengumpulkan para prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, Mengayau (memenggal kepala) dan membawa kepala yang di anggap musuhnya tersebut kemana-mana dan baru bisa berhenti apabila kepala adat yang dianggap perwakilan Panglima Burung menyadarkan mereka.
Inilah yang terjadi di kota Sampit Kalimantan Tengah beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah agama manapun dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya.
Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi atau pilihan terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, begitu yang mereka yakini dalam sudut pandang mereka.
Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Dan inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut.
Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.
Amun ikam kada maulah sual awan ulun, ulun gen kada handak jua bahual lawan pian malah ulun maangkat dingsanak awan pian, begitu yang di ucapkan orang kalimantan khususnya orang Banjar untuk menggambarkan sikap dari orang-orang Dayak.

Mengenal Kebudayaan Suku Dayak

Keragaman budaya di Indonesia sudah terkenal sampai ke penjuru dunia. Itulah sebabnya mengapa banyak wisatawan mancanegara yang datang dan berlibur ke berbagai tempat wisata di Indonesia. Selain menikmati keindahan alam, mereka juga ingin mengetahui keunikan budaya di Indonesia. Berikut ini ulasan singkat tentang Kebudayaan Suku Dayak;
Foto : www.lensaindonesia.com Prof. Dr. Arkanudin, Guru Besar Antropologi Budaya Fisip Universitas Tanjungpura Pontianak dalam bukunya berjudul “Kebudayaan Dayak Dulu dan Sekarang” mengangkat tentang suku Dayak sebagai inti dari kebudayaan Kalimantan Tengah, dan berdiri sendiri dalam kebudayaan yang kaya. Kebudayaan suku Dayak menjadi identitas yang membentuk manusia Dayak.
Segala istilah digunakan untuk menafsirkan kebudayaan Dayak. Dayak adalah seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia di Kalimantan Tengah dalam konteks berkehidupan dan bermasyarakat.
Orang Dayak memiliki cara tersendiri untuk membentuk masyarakatnya dengan pendidikan internal. Ini berarti bahwa budaya dan adat istiadat tengah membentuk dan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Dayak.
Bukan sekedar kepemilikan genetik melalui perwarisan biologis yang ada dalam tubuh manusia Dayak sendiri. Tetapi diperoleh melalui proses pembelajaran dari generasi ke generasi.

Idealisme Dayak di Kalimantan Tengah

Proses adalah bentuk penting dari budaya yang dimitoskan untuk diikuti dan ditaati. Dan itulah yang dinamakan dengan adat, yang berfungsi sebagai perilaku yang baik untuk mengelola, mengendalikan, dan memberikan arahan bagi orang Dayak dalam berperilaku sehari hari.
Misalkan, ini terlihat dalam berbagai upacara adat yang dilakukan sesuai dengan siklus kehidupan. Contohnya, perkawinan, kelahiran, dan kematian. Hal tersebut seiring dengan pengaturannya dalam upacara adat terkait.

Kedua, suatu bentuk budaya sebagai pola perilaku suatu masyarakat, yang dalam bahasa Bordieu, yaitu habitus, atau dalam bahasa sosiologi klasik yang biasa dikenal sebagai sistem sosial.
Ini tentu saja muncul dalam kehidupan sosial masyarakat dari sejak kecil sampai tua. Di mana mereka dihadapkan dengan aturan mengenai hal-hal yang harus dilakukan. Apa saja yang dilarang, sifat tertulis diwariskan dari generasi ke generasi, dan pengalaman hidup mewujudkannya sebagai pedoman dalam bermasyarakat untuk berperilaku bagi orang-orang Dayak.
Ketiga, bentuk budaya artifak, artifisial, terbentuk sebagai keterwakilan duniawi manusianya. Misalkan objek ciptaan manusia yang umumnya dikenal sebagai budaya fisik, hasil kerja keseluruhan masyarakatnya.
Mengacu pada suku dayak ini seperti rumah Tabalu, rumah di sepanjang sungai, dan interaksi antarmereka dengan menggunakan simbol fisik pemberian dan sejenisnya.
Ini menjelaskan bahwa kebudayaan Dayak sebenarnya berada dalam perkembangan tertentu. Dan berkembang seiring dengan adaptasi masyarakat Dayak hingga hari ini.

Seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, kebudayaan Dayak juga mau tidak mau mengalami pergeseran. Terutama dalam sudut pandang mereka tentang HUTAN dan SUNGAI.
Memberikan arti bahwa kebudayaan Dayak tidak statis dan selalu dinamis merupakan hal yang membuat penulis bersedih. Walau sampai saat ini masih ada orang-orang yang masih bertahan.
Mereka tidak terhalang oleh perubahan generasi, salut penulis untuk mereka. Bahkan, mereka tetap mempelihatkan kebanggan untuk menunjukkan identitasnya sebagai orang Dayak.

Perubahan pada Sisi Religi

Sebagaimana yang terjadi pada wilayah lain di Indonesia. Perubahan dalam masyakat hutan dimulai dari perubahan pada sudut pandang dan mistifikasi antara sistem keyakinan yang dimiliki oleh suku.
Hal tersebut dapat ditelusuri melalui ekspresi budaya, seperti cerita rakyat, yang bergeser pada penceritaan lainnya, yang lebih impor.
Misalnya, cerita rakyat di Timur Tengah, antara nabi-nabi yang disebut Samawi, entah yang beragama Islam atau Kristen, yang membentuk peristiwa dan menggeser mitos kosmos (alam semesta).
Dan peran manusia, serta mitos lain yang menggambarkan hubungan intrinsik antara manusia dan lingkungan alam yang telah diyakini masyarakat adat sebelumnya (Umberan, 1994). Dan sungguh, ini merecoki pandangan hubungan antara masyarakat Dayak dengan Alam tempat mereka hidup.
Menarik, dari pembahasan Ukur (1994) bahwa untuk memahami makna religius tentang alam sekitar budaya Dayak, sumber yang paling dapat membantu adalah mitos-mitos tentang alam semesta. Atau kosmos dan peristiwa manusia yang menggambarkan lampiran dan hubungan intrinsik antara manusia dengan alam sekitarnya.
Mitos itu sendiri dalam pandangan penulis adalah sesuci agama-agama besar yang diturunkan, di belahan lain dunia. Bilamana orang Dayak tidak berkewajiban menyebarkan pandangan dan keyakinan itu.
Maka itu merupakan wujud humble mereka pada dunia dan semesta. Untuk tidak sok tahu pada kebutuhan bangsa lain yang menghuni di bagian lain dunia.
Mitos tidak hanya cerita berkesan bohong, tetapi melalui mitos dikenali akan kejeniusan lokal yang hidup di dalam masyarakat Dayak sendiri. Yaitu, untuk mengungkapkan rahasia yang mendasar dan kebohongan di balik sikap manusia yang abai dan bersifat picik dalam perilaku.
Dan suku Dayak pun tidak menyukai sifat-sifat pengkhianatan pada nilai dan norma kemanusiaan universal, seperti Golden Rule itu.
Mitos sebagai sejarah hidup Dayak, meskipun yang diceritakan dalam mitos tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sejarah dalam konteks pemahaman suku Dayak sendiri sulit diverifikasi secara historis (Ukur, 1994) dan tetap dianggap sebagai mitos sejarah karena diinternalisasi oleh manusia Dayak secara lisan.
Namun, keberadaan mitos itu diyakini kebenarannya, dianggap suci. Berisi hal-hal yang indah. Umumnya, menjelaskan titah para dewa, dimitoskan untuk mengatur kehidupan masyarakat Dayak yang tampil pada berbagai kondisi seperti tradisi, ritual, dan arah kultus ditujukan. Namun, zaman tengah berubah.

Implementasi Budaya dalam Bentuk Tarian

Membahas kebudayaan Kalimantan Tengah, maka membahas pula sisi implementasi kulturalnya. Misalkan kita ambil contoh Tari Mandau, adalah salah satu dari berbagai jenis tari dari Kalimantan Tengah.
Dalam pandangan nama, tarian ini menggunakan salah satu senjata yang merupakan pedang dan talawang (perisai) khas Dayak. Tari Mandau juga dibagi menjadi berbagai jenis gerakan sesuai dengan wilayah suku Dayak yang ada.
Menurut suku Dayak itu sendiri, Mandau adalah simbol dari semangat masyarakat Dayak dalam membela harkat dan martabat. Hal ini juga melambangkan suku Dayak dalam menjelaskan kejantanan para pria dalam menghadapi segala macam tantangan dalam aspek kehidupan lainnya.
Selain itu, tarian ini juga menjelaskan bagaimana suku Dayak mempertahankan tanah air dan wilayah mereka. Dalam setiap acara Mandau didampingi irama suara Gandang dan Garantung yang terdengar lantang.
Harmonisasi irama musik tradisional menimbulkan suasana penuh semangat. Dan mengundang mereka yang mendengar dan melihat tari Mandau untuk mendapatkan lebih banyak gairah. Tujuannya, agar siap terjun ke medan perang.
Ada juga Tari Kancet yang menceritakan sisi kepahlawanan Dayak Kenyah terhadap lawan-lawan mereka. Gerakan tari ini sangat hidup, lincah, energik, dan kadang-kadang diikuti dengan jeritan para penari.
Ada banyak tarian lainnya dari suku Dayak yang tak kalah menarik untuk Anda pelajari. Di antaranya adalah Serumpai, Gantar, Kancet Lasan, Kancet Ledo atau Tari Gong, Belian Bawo, Ngerangkau, Kuyang, Baraga’Bagantar, Datun, dan Pecuk Kina.

Sejarah Awal Adanya Suku Dayak di Indonesia

Suku dayak,adalah suku yang sangat fenomenal yang ada di negara Indonesia,karena terkenal akan kekuatan magisnya, Kata Dayak berasal dari kata "Daya" yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat.

Asal Mula Adanya Suku Dayak
dayak nini Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

* Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

* Dunia Supranatural

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
Sejarah Awal Adanya Suku Dayak di Indonesia
Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

Selasa, 04 Februari 2014

Objek Wisata Kota Cantik Palangka Raya

Palangka Raya, merupakan gerbang utama menuju Kalimantan Tengah yang kaya akan keindahan alam  dengan pemandangan hamparan hutan hujan tropis dan lahan gambut yang khas.
Secara geografis terletak dekat garis katulistiwa dan dikelilingi oleh tiga sungai besar yang menjadi pusat kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, petani dan pedagang. Selain itu di daerah Kota Palangka Raya juga merupakan rumah dari populasi Orang Utan terbesar di pulau Kalimantan.
Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah mencapai puncaknya pada 23 Mei 1957 menjadi Daerah Swatantra Tingkat I sebagai daerah otonom, sekaligus tanggal tersebut menjadi hari jadi Provinsi Kalimantan Tengah. 
Pemancangan tiang pertama pembangunan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia  pertama Ir. Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957 dengan diresmikannya Tugu / Monumen Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah yang memiliki luas wilayah 2.678,51 KM² atau 267.851 hektar yang sebagian besar topografi berupa tanah datar  dan berpasir.       
Curah hujan tahunan di wilayah Kota Palangka Raya selama 10 tahun terakhir rata-rata sebesar 2.290 mm. Kelembaban udara rata-rata tahunan sebesar 83,08%. Temperatur rata-rata adalah 26,88°C.
Terdapat beberapa macam jenis pilihan wisata dikota palangka raya. Diantaranya Wisata Alam, Wisata Adrenalin, Wisata Sejarah/Budaya, Wisata Religius, Wisata Belanja, dan Wisata Kuliner.
Berikut objek-objek wisata yang ditawarkan dikota Palangka Raya.

WISATA ALAM
      -       Bukit Batu
Terletak di perbatasan Kota Palangka Raya dan Kabupaten Katingan. Berjarak 83 Km dari pusat Kota Palangka Raya dan memakan waktu sekitar 30 menit. Merupakan lokasi pertapaan Pahlawan Nasiolan asal Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut. 


-       Taman Wisata Bukit Tangkiling
Berjarak sekitar 32 Km dan menempuh waktu 30 menit dari pusat kota Palangka Raya. Terletak di kelurahan Banturung Kecamatan Bukit Batu. Bukit ini merupakan kumpulan perbukitan yang terdiri dari 8 puncak dengan pemandangan yang mengesankan. Dilokasi ini juga terdapat Guest House Pemda Kalteng dan bangunan/perumahan Dinas Kehutanan Kalteng. Bukit ini juga dipergunakan sebagai lahan pembibitan berbagai jenis kayu hutan, seperti Tengkawang, Ulin, dll. Sebagai sarana pendukung wisata dibangun pula shelter, playground, jalan setapak, sarana parkir, dll.
-       Danau Tahai, Arboretum, dan Bumi Perkemahan Nyaru Menteng
Berjarak sekitar 29 Km dari pusat kota Palangka Raya. Lokasi ini terletak di Kecamatan Bukit Batu, Kelurahan Danau Tahai. Danau Tahai. Untuk menikmati pemandangan danau Tahai, telah disediakan speed boat, jukung (perahu tradisional), dan sepeda air. Terdapat pula jembatan gantung yang menyeberangi danau sehingga pengunjung dapat berjalan-jalan disekitar lokasi danau.
Arboretum. Merupakan lokasi pembudidayaan tanaman langka khas Provinsi Kalimantan Tengah. Lokasi ini pada mulanya merupakan objek Hutan Wisata Kalimantan Tengah. Namun, karena saat ini telah didirikan Pusat Penangkaran dan  Rehabilitasi Orang Utan di lokasi tersebut, kebebasan pengunjung turut diperhitungkan dengan alasan agar orang utan dapat benar-benar hidup layaknya orang utan liar pada umumnya.
Bumi Perkemahan Nyaru Menteng. Terletak beberapa meter sebelum pintu masuk Arboretum. Lokasi ini merupakan lokasi perkemahan masyarakat Kalimantan Tengah. Berbagai perkemahan sering diadakan di lokasi ini. Baik itu perkemahan anggota Pramuka, Kampus, Organisasi Kepemudaan, dan berbagai acara perkemahan khusus lainnya.
-       Desa Wisata
Sebuah desa yang terletak dipinggiran Sungai Rungan yang merupakan bagian dari area pemukiman Rungan Sari Permai.

-       Fantasi Beach
Terletak di Jl. Cilik Riwut Km.21 Palangka Raya dan menempuh waktu 25 menit dari pusat kota Palangka Raya. Lokasi ini merupakan danau buatan yang ditata layaknya sebuah pantai. Kantin, luncuran, pendopo, panggung hiburan, sepeda air, kolam pemancingan, speed boat, cano, jukung (perahu tradisional Kalimantan Tengan), mini outbound dan flying fox yang menyeberangi danau disediakan dilokasi ini.


-       Wisata Susur Sungai
Merupakan wisata air sungai Kahayan. Dengan menggunakan kapal wisata, wisatawan diajak berkeliling menyusuri sungai dan menikmati indahnya hutan tropis Kalimantan Tengah.

-       Taman Wisata Kum-Kum
Terletak diseberang kota Palangka Raya. Menempuh waktu 5 menit dari pusat kota Palangka Raya. Lokasi yang berada tepat dipinggir aliran sungai Kahayan merupakan tempat yang cocok untuk bersantai bersama keluarga, sehingga pengunjung dapat melihat kapal-kapal yang melintas di sungai Kahayan. Pepohonan besar dan rindang menjadikan suasana sejuk dan nyaman untuk dinikmati. Pihak pengelola juga menyediakan kantin dan pondok (pendopo) tempat beristirahat pengunjung yang datang. Terdapat pula permainan anak-anak di lokasi tersebut. Selain itu, berbagai jenis hewan, seperti kera, musang, enggang, beruang, dan buaya juga diperlihatkan di lokasi tersebut. Lokasi ini juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi pemotretan model lokal Palangka Raya.

WISATA ADRENALIN
-       Anak Himba Outbound
Objek wisata yang didirikan oleh Blue Betang Travel Adventure ini terletak di kelurahan Banturung Kecamatan Bukit Batu. Wahana uji adrenalin seperti Cargo Nett, Elvis Walk, Diagonal Beam, Burma Bridge, Canopy Trail, Flying Fox, dll disediakan dilokasi ini. Pendiri objek wisata ini juga menawarkan layanan Wisata Petualangan, Pemandu Wisata, Penggiat Aktivitas Alam Bebas, dan Event Organizer.


WISATA SEJARAH/BUDAYA
-       Monumet Tugu Soekarno
Terletak di Jl. S.Parman Palangka Raya. Menempuh waktu  3 menit dari Pusat kota Palangka Raya. Tugu ini merupakan tiang pancang pertama pendirian Kota Palangka Raya sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah oleh Presiden Pertama RI Ir. Soekarno pada tanggal 17 Juni 1957.


-       Museum Negeri Balanga
Terletak di Jl. Cilik Riwut Km. 2,5 Palangka Raya. Menempuh waktu 10 Menit dari pusat kota Palangka Raya. Di museum ini disimpan berbagai jenis benda-benda kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Kalimantan Tengah. Terdapat pula benda-benda kesenian adat, senjata perang suku Dayak, dan berbagai mata uang yang pernah dipergunakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada zaman dahulu. Selain itu, di museum ini juga terdapat Fosil ikan raksasa yang berukuran sekitar panjang 6 meter dan lebar 1,5 meter.


-       Sandung Ngabe Sukah
Terletak di persimpangan Jl, Letk. Darmosugondo dan dr. Murjani. Menempuh   waktu 15 menit dari pusat Kota Palangka Raya. Sandung ini merupakan tempat penyimpanan tulang belulang tokoh suku Dayak Desa Pahandut (Ngabe Sukah).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
WISATA RELIGIUS
-       Bukit Karmel / Bukit Doa
Terletak di kelurahan Banturung Kecamatan Bukit Batu. Merupakan lokasi peribadatan umat Kristiani masyarakat kota Palangka Raya.


WISATA BELANJA
-       Pusat Oleh-Oleh Khas Kalimantan Tengah
Terletak di Jl. Batam Palangka Raya. Dilokasi ini dijual berbagai jenis oleh-oleh khas Kalimantan Tengah, seperti kerajinan tangan, pernak-pernik, jajanan, pakaian, benda-benda tradisional, patung-patungan, replika senjata tradisional, dsb.

-       Palangka Raya Mall (PALMA)
Terletak di pinggir Bundaran Besar (pusat) Kota Palangka Raya. Fasilitas yang tersedia di Palangka Raya mall sama seperti mall-mall dikota-kota lain pada umumnya. Hanya saja bentuk ukuran bangunan yang lebih kecil dari pada mall-mall di kota-kota lain umumnya.


WISATA KULINER
-       Kampung Lauk
Terletak diseberang kota Palangka Raya. Ruang makan yang berupa bangunan pondok (pendopo) dan berdiri tepat dipinggir aliran sungai Kahayan menjadikan suasana nyaman untuk menikmati hidangan yang disediakan.  Menyediakan berbagai jenis masakan khas Kalimantan Tengah. Ikan Bakar merupakan menu utama lokasi ini. Buka setiap hari pukul 10.00 WIB – 21.00 WIB.


-       Rumah Makan Samba
Terletak di Jl. RTA Milono Palangka Raya. Menyediakan berbagai jenis masakan khas Kalimantan Tengah.


Ritual Memandikan Tengkorang di Kalimantan


Ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang ini, dilakukan oleh suku Dayak Bidayuh. Suku ini merupakan salah satu sub-suku Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Mengayau sendiri adalah memenggal kepala manusia, yangkemudian tengkoraknya diawetkan. Sekarang, tradisi mengayau sudah tak dilakukan lagi. Upacara membersihkan tengkorak hasil mengayau ini cukup mengharukan, dan berlangsung selama tiga hari. Mulai tanggal 15 hingga 17 Juni.

Kegiatan utamanya yakni, memandikan tengkorak yang tersimpan dalam rumah adat. Sesuai aturan yang dipercaya secara turun temurun. Dimulai menyambut tamu di batas desa. Awalnya, ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau. Penyambut, mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Dilengkapi dengan sumpit dan senapan lantak yang dibunyikan, ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa. Sumpit juga diacungkan bersamaan.

Letupan dari senapan lantak tersebut, juga berguna memanggil ruh leluhur sekaligus minta izin bagi pelaksanaan ritual Nyobeng. Lalu, tetua adat melempar anjing ke udara. Dengan mandau, pihak ketua tamu rombongan harus menebasnya. Jika masih hidup, harus dipotong dengan mandau begitu jatuh ke tanah. Prosesi yang sama juga berlaku untuk ayam. Tetua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Jika telur tak pecah, maka tamu yang datang dianggap tidak tulus. Sebaliknya, jika pecah, berarti tamu datang dengan ikhlas.


Beras putih dan kuning dilempar sambil membaca mantra. Para gadis lalu menyuguhkan tuak dari pohon niru yang dicampur kulit pohon pakak yang telah dikeringkan. Usai minum, rombongan tamu diantar menuju Rumah Balug, di tengah perkampungan.
Rumah Balug merupakan rumah adat yang berupa rumah panggung dan berbentuk bulat. Untuk memasuki rumah ini, dibuatkan undakan yang terbuat dari bilah pohon. Lebarnya sekira 10 meter dengan tinggi 15 meter dari tanah.

Saat masuk tempat upacara, rombongan diberi percikan airyang telah diberi mantra dengan daun anjuang, yang berfungsi sebagai tolak bala. Tujuannya, agar para tamu terhindar bencana. Ketika memasuki area upacara, para tamu harus menginjak buah kundur yang diletakkan dalam baskom yang lebih dikenal dengan ritual pepasan.

Bersama warga, para tamu kemudian menari tari Mamiamis sambil mengitari rumah adat. Mamiamis, adalah tarian untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau. Sambil diiringi Tetua adat dengan menyanyikan lagu dan membaca mantra-mantra.

Tetua adat naik Rumah Balug. Simlog pun dipukul dan mercon dibunyikan. Tujuannya untuk memanggil arwah leluhur dan juga sebagai tanda dimulainya Upacara Nyobeng. Dilanjutkan dengan makan bersama di Rumah Balug. Lauknya, nasi dengan ikan babi. Toleransi juga tinggi. Bagi muslim, disediakan makanan khusus bukan babi. Habis makan, tamu boleh meninggalkan area rumah adat.

Pilihannya bisa istirahat di rumah penduduk. Saat istirahat, sebagian laki-laki di daerah tersebut menyusuri hutan untuk mencari bambu hutan. Diameternya sekitar sepuluhan centimeter.

Saat bersamaan, setiap rumah membuat sesajian yang dioles dengan darah dari sayap ayam. Darah ayam ini juga dipercikkan ke bagian-bagian rumah dan pekarangan yang dianggap sakral. Setelah itu para keluarga dan para tamu kembali menuju rumah adat. Setelah dapat bambu hutan yang dicari, para pria itu menggotongnya menuju ke rumah adat secara beramai-ramai. Dengan memegang mandau bambu dikitari sambil berbaris.


Mandau yang dibawa merupakan pusaka keluarga. Hiasan pada gagang mandau dibuat dari tulang atau kayu. Hiasan itu juga sebagai lambang makna dan prestasi tertentu dari si pemegang mandau dalam mengayau. Persiapan matang. Ketua adat memberi isyarat memulai kegiatan. Salah seorang maju ke depan sambil membuka mandau dari sarung sambil menebas mandau ke batang bambu.

Dalam sekali tebas, bambu putus. Keberhasilan ini, merupakan pertanda baik, menurut kepercayaan masyarakat. Usai sudahacara potong bambu. Ruh pun dipanggil oleh ketua adat.

Tujuannya untuk menghadirkan dan memohon ijin yang telah melindungi untuk memulai Nyobeng. Tetua adat kemudian, menaiki rumah panggung. Tujuh macam sesajian diletakkan di batas desa nantinya. Kemudian, kotak yang berada di bubungan rumah adat yang di dalamnya tersimpan tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan, diambil oleh tetua adat dan melumuri tangannya dengan ramuan khusus.

Lalu dioleskannya pada tengkorak yang ada di dalam kotak. Berikutnya ketua adat memotong seekor ayam hinga kepalanya putus. Kepala dan tetesan darah ayam tersebut dioleskan pada tengkorak. Tengkorak dimasukkan lagi pada kotak dan disimpan. Acara dilanjutkan dengan memotong anjing. Darah yang keluar diusapkan pada tiang penyangga rumah adat, rumah-rumahan kecil, dan patung laki-laki dan perempuan yang berada di samping rumah adat dan patung. Rumah-rumahan dan patung-patung tersebut dianggap sebagai asal-usul nenek moyang mereka. Pemotongan anjing dimaksudkan untuk menolak ruh jahat. Sebagian daging anjing yang baru dipotong kemudian dibawa ke atas rumah adat.

Promosi Seni Budaya Dayak

Imelda Madjat Djahari Timbang, putri Indonesia Kalimantan Tengah 2009, komitmen mempromosikan seni dan budaya Dayak melalui Sanggar Tari Betang Batarung agar lebih dikenal di mata nasional dan internasional.
Mahasiswi semester III Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Palangka Raya ini mengajak generasi muda Kalteng terutama para mahasiswa untuk tidak malu mempromosikan seni dan budaya daerah kepada orang luar.
“Melalui  Pesparawi Mahasiswa Nasional, kita bisa menambah wawasan dan bertukar informasi tentang seni dan budaya dari seluruh Indonesia. Dan, melalui simposium ilmiah keagamaan, diharapkan kondisi keragaman, persatuan dan kesatuan masyarakat di Kalteng tetap terjaga, aman, dan damai,” kata Imelda, usai membawa acara simposium di Aula Palangka Unpar, Kamis (21/10).
Menurut gadis berambut panjang ini, kegiatan Pesparawi Mahasiswa Tingkat Nasional XI dan Pestani yang dilaksanakan di Unpar, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempromosikan seni dan budaya Dayak Kalteng.
Kutipan : Harian Umum Tabengan - Sabtu, 22 Oktober 2010